SUARAPELITA : JAKARTA ,- Adanya perpecahan di Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia berawal dari sebuah kepentingan secara politis yang menyusuh di Organisasi yang sudah berusia hampir 20 tahun ini. Prescon diadakan Dewan Pers Kebon Sirih Jakarta Pusat, pada Kamis (21/3).

Secara anggaran dasar dan anggaran Rumah Tangga dalam pasal 20 tentang pemilihan Pimpinan terdapat bunyi yang jelas Pasal 20 (a) Pimpinan Pusat dipilih melalui Kongres untuk jabatan 5 (lima) tahun dan hanya boleh menjabat 3 (tiga) periode, kecuali ada hal yang dianggap luar biasa.

Dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga harusnya jelas jabatan Oka Syahyan sudah habis karena sudah lewati tiga periode. Harus berikan laporan pertanggung jawaban melaksanakan kongres tingkat nasional hal ini adalah mutlak kesalahan Oka Syahyan selaku Ketua Umum langgar aturan Organisasi.

Namun hal ini dapat diselamatkan oleh Sekjen Budi Wahyudin melalui rapat musyawarah kerja, Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia secara alot berjalan hampir 5 bulan.
Dan berakhir sidang pada Tanggal 25 Juli 2018 di Sekretariat DPP AWDI Jalan Juanda Raya 4a Jakarta Pusat.

Lagi – lagi posisi Oka dapat terselamatkan , namun ketika akan di lakukan pengesahan di kemendagri dan Kemenkumhan muncul permasalahan baru , Ketum Oka Syahyan terkena provokasi oleh pihak lain . Mengganti Asosiasi Watawan Demokrasi Indonesia menjadi Aliansi Wartawan Demokrasi Indonesia demi kepentingan Sesat.
Setelah keluar Surat Pengesahan dari Kemenkumham melalui Notaris Masruruh SH. Maka di tetapkan lah ” Komposisi Kepengurusan Versi Aliansi.

Adapun Ketua Umum. OK Syahyan, Sekjen.Iwan Setiawan SE, Wakil Sekjen. Rusman Nuryadin , Bendahara.Mr Tjong Tjandra Wijaya ,Pengawas. Mr. Santoso Wijaya, hal tersebut sudah di umumkan dan share oleh Dantoso Wijaya di media online di Group WA dan di FB sekitar 2 Bulan yang lalu.

Lalu pihak Pendiri dan Pengurus Asosiasi melakukan protes keras Asosiasi harus dipertahankan kenapa usianya sudah 20 tahun ada penggembosan. Akhirnya protes keras pun mengalir dan di tampung oleh DPP melalui Budi Wahyudin. Lakukan Rapat luar biasa.

Pada akhirnya Budi wahyudin melakukan penyelelamatan membuat laporan dan hasil musyawarah Rapat Kerja DPP kepada pihak Kementrian Dalam Negeri dan laporan di tembuskan ke Sekretariat Negara dan Kominfo , agar Asosiasi tetap tercatat di lembaran Negara hal tetsebut dilakukan bersama B. Waja, SH. maka bagaimanapun Asosiasi masih terdaftar hanya harus ada penambahan kelengkapan.

Nah hal ini inilah yang memacu adanya konflik internal organisasi.
Haruskah ada pihak lain di luar organisasi ikut campur tangan dan terlibat di organisasi profesi ini.
Maka bila ada siapapun akan melanggar aturan dan berhadapan dengan hukum.
Lalu apakah pihak Oka Syahyan dapat menunjukkan bukti dan memberikan argumentasi hukum sebagai seorang pemimpin secara profesional minimal tesis atau tulisan untuk menangkis serangan dan tudingan kalau beliau masih bercokol sebagai orang Nomor 1 di Awdi setelah tersandung masalah.
Kita lihat saja kata pendiri yang tidak mau di ekspos namanya.

Lalu etiskah kalau ada pihak lain yang ikut campur pada konflik internal ini mungkin orang pintar cerdas profesional harus befikir 2 kali.

Nah untuk cuci tangan bisa saja Budi Wahyudin Sebagai Sekjen yang sudah dampingi Oka syahyan selama 4 tahun menggantikan posisi Laorensius siregar menjadi fitnah secara pribadi.

Dengan jalan hasut dengan jalan finah kejam dan tidak manusiawi yang belum tentu bisa dipertanggung-jawabkan secara hukum.
Dan di luar etika tupoksi dan mekanisme organism Hal ini sudah diketahui orang banyak dan sudah pula diedarkan program kerjanya.

Dikhawatirkan bila terjadi penyebaran berita akan berdampak benturan hukum yang sangat kuat baik secara politis maupu internal. Diharapkap kepada pihak pihak di luar AWDI dapat menahan diri dan tidak terprovokasi. (Vaz)