SUARAPELITA I BANDUNG,- Kasus Dana Hibah terkait bansos yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya yang melibatkan terdakwa yakni Setiawan dan Lia Sri Mulyani. Kedua orang terdakwa ini di sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tripikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (04/03/2019).

Menurut Lia Sri Mulyani yang berprofesi sebagai aktifis ini ia mengaku menerima uang 136 jutaan dan uang tersebut habis dibelikan tanah dan mobil.

“Iya uangnya habis dibelikan tanah dan mobil. 40 jutaan untuk mobil, untuk beli tanah dan sisanya habis untuk keperluan sehari- hari:, kata Lia.

Dalam sistemnya Mulyana menyuruh untuk mencarikan proposal sehingga untuk keungan pencairan proposal tersebut diberikan 10% untuk pencarinya dan 10 % pada setiawan sisanya 80% untuk mulyana.

Dana hibah tentu harus ada pertanggungjawaban dan laporan kegiatan. Menurut setiawan mengenai mekanismenya ia buat sendiri, sehingga isinya tidak sesuai dengan kegiatan . Dalam Praktik pembuatan proposal menurutnua dia mengarang isi proposal tersebut sehingga sesuai dan di tandatangani oleh ketua yayasan atau lembaga.

“ Yang tandatangan pimpinan Yayasan kalau mau mendapatkan dana hibah harus mendapat pengesahan itu diserahkan kepada Pak Arif”, terang Setiawan.

Dalam keterangan Setiawan sekitar 21 proposal di serahkan ke Mulyana kemudian di cairkan ke rekeningnya. Menurutnya dari 21 lembaga tersebut terdakwa setiawan menerima uang sebesar 350 juta rupiah. Uang tersebut menurut terdakwa habis untuk kehidupan sehari- hari sehingga belum bisa mengembalikan uang ke negara.

Tahun 2017 ketika disuruh oleh 2 orang PNS dari Kesra Kabupaten Tasikmalaya yakni Alam dan Eka yang sudah ditetapkan jadi terdakwa ini. Mereka menyuruh untuk mencari yayasan penerima bantuan hibah. Menurut saksi Seriawan kalau menerima bantuan hibah 1 yayasan 682 jutaan dan semuanya sudah habis. (5417)