SURAT TERBUKA DARI ROHADI UNTUK PRESIDEN YANG TAK KUNJUNG DAPAT BALASAN.

SURAT TERBUKA DARI ROHADI UNTUK PRESIDEN YANG TAK KUNJUNG DAPAT BALASAN.
10 Mar

 

 

 

 

SURAT TERBUKA DARI ROHADI UNTUK PRESIDEN RI.

Suarapelita.com, minggu-10/03/2019.

 

 

Rohadi terpidana kasus gratifikasi, uang suap Syaiful Jamil tak henti hentinya melayangkan surat terbuka untuk Presiden RI untuk mencari keadilan agar orang-orang yg terlibat gratifikasi uang kasus Syaiful Jamil segera diungkap melalui alat bukti yg disita di Kpk yaitu handphone milik Rohadi yg didalamnya terdapat rekaman pembicaraan proses terjadinya transaksi gratifikasi aliran uang tsb.

 

 

Harapan Rohadi dengan terus dan terus melayangkan surat terbuka untuk mendapatkan dukungan dari Presiden RI agar Kpk mau membuka rekaman handphone miliknya yg kini berada ditangan Kpk itu berdasar dari dua hal, yang pertama adalah adanya statement yg pernah disampaikan oleh Presiden RI pada saat pimpin acara Rapat terbatas mengenai lanjutan pembahasan reformasi hukum pada hari selasa-17/01/2017 di istana merdeka yg mengatakan bahwa ” Saya ingin menekankan bahwa ditahun 2017 ini kita berkomitmen untuk fokus mengatasi kesenjangan sosial, termasuk ketimpangan akses untuk memperoleh keadilan, masih banyak kelompok masyarakat kita, masyarakat marjinal, yg belum memperoleh perlindungan dan bantuan hukum yg memadai untuk memperjuangkan keadilan ” (Presiden RI), serta berdasar atas UU No 14/2008 perihal Keterbukaan Informasi Publik pasal 6 :

Ayat 3(tiga)- Informasi yg diberikan dengan hak-hak pribadi.

Ayat 4 (empat)- Informasi yg berkaitan dengan Rahasia jabatan dan atau

Ayat 5 (lima)- Informasi publik yang diminta belum dikuasai atau didokumentasikan.

 

 

 

Rohadi pun menyebutkan satu persatu orang-orang yg menerima gratifikasi uang “pelesiran”tersebut satu persatu sekaligus peran yg mereka lakoni :

 

 

1) Lilik Mulyadi S.H (Hakim Tinggi Medan saat ini), yang menyuruh Rohadi dan Hakim Dasma S.H (alm) untuk mencari Dana rekreasi keluarga besar karyawan PN (Pengadilan Negeri) Jakarta Utara.

 

 

2) Ifa Sudewi S.H Hakim ketua Majelis Syaiful Jamil yg 3 (tiga) kali di lobby oleh Bertha Nathalia (Pengacara Syaiful Jamil) atas perintah suaminya Karel Tupu S.H yg minta agar Syaiful Jamil dibantu.

 

 

 

3) Hakim Dasma S.H., yg menjadi penghubung dengan Ifa Sudewi S.H, yg mama hakim Dasma pada saat itu minta tolong dibantu di lobby hotel Grand Aston Medan, tgl 10/06/2016 jam 11.00 wib.

 

 

 

4) Rina Pertiwi S.H., yang pada saat itu Panitera Sekretaris PN Jakut, yg menerima uang Rp.50.000.000.,(Lima puluh Juta Rupiah) untuk pembelian Tiket-tiket para Hakim dan Karyawan PN Jakut yg pelesiran ke Solo awal 2016 menggunakan pesawat Lion Air.

 

 

5) Karel Tupu S.H., Hakim Tinggi Jawabarat, yg menyuruh Rohadi untuk diam dan berbohong agar tidak membuka mulutnya membawa hakim hakim

 

 

6) Bertha Nathalia (Pengacara Syaiful Jamil) yg juga istri dari Karel Tupu yg menyerahkan uang dari pihak Syaiful Jamil melalui via tlp dengan Rohadi yg Rohadi sendiri bertugas sebagai penyambung lidah mereka via tlp dan tidak pernah mengetahui nya.

 

 

Akankah Presiden dan Kpk membiarkan orang-orang yg terlibat gratifikasi tsb dibiarkan bebas dan seakan tidak tersentuh karena jelas bahwa mereka lah yg seharusnya mereka lah yg berada di meja pesakitan dan mendekam dibalik dinginnya tembok jeruji?

 

 

 

Ataukah hanya karena jabatan mereka saat ini seakan tidak akan pernah tersentuh proses pra peradilan ataupun proses penyelidikan atas pengembangan yg mana sudah dikemukakan oleh Rohadi dengan adanya nama tersangka baru walau pun akhirnya Rohadi menyesal tidak menceritakan hal yg sesungguhnya atas pertanyaan pertanyaan Sidang majelis atau pun Kpk.,

 

 

Rohadi tidak akan putus asa ataupun berhenti meminta keadilan untuk dirinya yang pada saat itu hanya sebagai perantara saja (penghubung), juga dengan mengalirnya dukungan dari berbagai elemen, kelompok penyeru pencari keadilan dan membenci adanya mafia hukum yg kini berkeliaran bebas seakan tidak pernah melakukan atau bahkan seakan tidak pernah memakai uang gratifikasi tsb.

 

 

 

Akankah Presiden RI yg ” Pro Wong Cilik” dapat membantu tidak hanya sekedar membaca surat terbuka dari Rohadi, hingga juga mau bekerjasama membongkar mafia hukum ┬áselama ini Rohadi teriakkan tanpa henti dan tak takut karena dianggap berbohong, serta Presiden RI tidak melupakan apa yg sudah disampaikannya pada saat pimpin Rapat terbatas pada thn 2017 silam tsb.

 

Dan Rohadi berharap Kpk mau bekerjasama dengannya agar rekaman pembicaraan yg terdapat di handphone miliknya yg saat ini berada ditangan Kpk agar dibuka dan disampaikan di muka umum agar tidak pernah terjadi lagi Rohadi Rohadi lainnnya yg menjadi korban mafia hukum.

 

Sementara Rohadi tidak berdaya menjalani hukuman atas korban mafia hukum dan harus menjalani hukuman selama 7thn tetapi bertha natalia yg jelas berperan aktif dlm kucuran dana gratifikasi hanya menjalani 2thn hukuman dan kini sudah bebas dan menghirup udara segar.

 

Tumpulkah hukum di Negeri ini tatkala menghadapi tembok Mafia hukum yg bermuatan para Hakim dan pejabat Hukum yg berkecimpung dibidang Hukum?

 

Team Kontributor Suarapelita.

 

Asep/Nurdin/Supardi.

Satu tanggapan pada “SURAT TERBUKA DARI ROHADI UNTUK PRESIDEN YANG TAK KUNJUNG DAPAT BALASAN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *